Abdi Urang Sunda
Riksa Retna Rengganis
Kacapi Suling Ayun Ambing
Jumat, 08 Juli 2022
Minggu, 18 Juli 2021
Selasa, 27 Oktober 2020
Minggu, 12 Juli 2020
Minggu, 19 April 2020
Senin, 21 Agustus 2017
Artikel Sanitasi Sekolahku
Sanitasi Sekolah :
Toilet Sekolahku Bersih dan Kekinian.
Kira-kira apa yang terbersit ketika
melihat, mendengar atau menuliskan kata toilet? Sebuah kata yang tidak asing
bahkan dicari semua orang di semua tempat. Setidaknya ada dua situasi yang
bersilangan dan sangat kontras yang menggambarkan sebuah toilet. Situasi
pertama bangunan dan desain toiletnya sangat bagus, nyaman, bersih, higienis,
airnya mengalir jernih dan tidak berbau, klosetnya berfungsi dengan baik,
sirkulasi udaranya baik, pencahayaannya baik, dan yang terpenting sangat
terawat. Situasi kedua seperti
kebalikannya, bangunan dan desainnya seadanya bahkan tampak tidak menarik,
airnya kadang ada kadang tidak, klosetnya sering macet, ruangannya kecil dan
terasa pengap, gelap, dan tercium bau yang tidak enak, dengan kondisi seperti
itu tidak terawat pula jauh sekali dari higienis apalagi merasa nyaman. Tidak
jarang toilet juga sering dihubungkan dengan situasi yang kurang menyenangkan,
bau yang tidak sedap, bahkan terkadang menjadi tempat yang menyeramkan. Eit,
tapi itu dulu, ketika kepedulian terhadap sanitasi sangat minim dan tidak
jarang sering diabaikan. Tapi sekarang sudah waktunya paradigma tersebut
dirubah bahkan kalau bisa dihilangkan.
Toilet merupakan salah satu bagian dari
sanitasi. Sanitasi sendiri adalah segala upaya
yang kita lakukan untuk mewujudkan kondisi lingkungan yang sesuai dengan
persyaratan kesehatan. Sanitasi juga dikatakan sebagai perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih
dengan maksud mencegah manusia bersentuhan
langsung dengan kotoran dan bahan buangan lainnya dengan harapan usaha ini akan
menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
Beberapa
tahun terakhir ini sanitasi di sekolah-sekolah sedang mendapatkan perhatian
yang cukup menjanjikan. Salah satunya, dengan menggulirkan program “Sanitasi
Sekolah” yang bertujuan untuk meningkatkan perhatian pihak sekolah dalam
kepedulian sanitasi, serta peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat. Tidak
terkecuali di sekolahku, toilet sebagai salah satu tempat yang sering dicari
oleh anak-anak dan warga sekolah lainnya.
Lingkungan sekolah adalah salah satu
kesatuan lingkungan fisik, mental dan sosial dari sekolah yang memenuhi syarat-syarat
kesehatan sehingga dapat mendukung proses belajar mengajar dengan baik dan
menunjang proses pertumbuhan dan perkembangan murid secara optimal. Faktor
lingkungan sekolah dapat mempengaruhi proses belajar mengajar, juga kesehatan
warga sekolah. Kondisi dari komponen lingkungan sekolah tertentu dapat
menyebabkan timbulnya masalah kesehatan. Faktor resiko lingkungan sekolah
tersebut dapat berupa kondisi atap, dinding, lantai, kantin sekolah, termasuk
didalamnya keberadaan toilet sehat yang saat ini sedang menjadi topik hangat
diberbagai akses sanitasi.
Mengapa dibutuhkan sanitasi yang layak? Untuk
gaya hidupkah? Untuk kesehatan kah? atau hanya sekedar pelengkap saja?. Tahukah anda bahwa sanitasi yang buruk merupakan
penyebab terbesar kedua timbulnya penyakit di dunia ini?. Sebagai bagian dari
sanitasi, pengelolaan limbah menjadi salah satu faktor penting yang patut
diperhatikan. Pembuangan limbah sembarangan tidak hanya dapat mengganggu
keseimbangan ekosistem, namun juga kesehatan manusia.
Lalu
kenapa dengan sekolah?
Anak adalah asset bangsa masa depan, pada
merekalah kita menitipkan negeri ini nantinya. Baik buruknya suatu bangsa
tergantung pada kualitas anak yang akan meneruskan kehidupan berbangsa kita. Kata-kata
guru lebih merasuk dihati anak-anak dibanding dengan kata orang tua mereka.
Oleh sebab itu sasaran perubahan perilaku anak sebaiknya diterapkan pada anak
melalui sekolah karena akan lebih efektif dan berhasil.
Anak-anak adalah agen perubahan perilaku,
melalui anak kita dapat menerapkan atau mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
di sekolah dengan harapan mereka (anak anak kita akan membawanya ke lingkungan
rumah mereka masing-masing). Bayangkan jumlah anak disetiap sekolah, seandainya setiap sekolah menerapkan perilaku
hidup bersih dan sehat berapa orang Indonesia yang akan mengadopsi perilaku
tersebut dengan asumsi setiap keluarga beranggotakan 4 orang (orang tua dan
kedua anaknya) maka sasaran yang kita capai akan lebih cepat dan langsung
mengena sasaran. Anak akan tidak sungkan kepada kedua orang tuanya maupun
kepada anggota keluarga lainya bila melihat perilaku yang tidak sehat
dilingkungan rumah mereka, karena tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh guru
mereka di sekolah. Bila perilaku hidup bersih dan sehat itu sudah tertanam di
setiap anggota keluarga diharapkan perilaku hidup bersih dan sehat akan
berhasil di negeri kita, angka orang yang terkena penyakit akibat sanitasi yang
buruk akan menurun dan buang air besar sembarangan pun akan menghilang dari
negeri tercinta kita ini.
Sedikit demi sedikit paradigma toilet yang
tidak nyaman, berbau tidak enak, dan tidak bersih mulai dihilangkan. Pemeritah
memiliki cita-cita semua toilet di sekolah-sekolah menjadi toilet yang nyaman,
bersih dan sehat, serta mendekati standar toilet yang baik, yaitu sebuah ruangan yang dirancang khusus lengkap dengan
kloset, persediaan air dan perlengkapan lain yang bersih, sirkulasi udara yang
baik, pencahayaan baik, tersedia tempat
cuci tangan, sesuai dengan gender (jenis kelamin), fasilitas kebersihan toilet,
aman dan higienis dimana semua warga sekolah dapat membuang hajat serta memenuhi
kebutuhan fisik, sosial dan psikologis lainnya. Tidak sedikit sekolah-sekolah
yang mendapatkan dana bantuan dari pemerintah untuk pengadaan sanitasi. Bantuan
tersebut diantaranya dialokasikan untuk pengadaan toilet, pengadaan air bersih,
dan pembiasaan perilaku hibup bersih dan sehat.
Rasio ideal penyediaan toilet di sekolah
adalah 1:60 untuk laki-laki, dan 1:50 untuk perempuan. Adapun rasio rata-rata
nasional juga menunjukkan angka yang tidak ideal yakni 1:90. Rasio ideal untuk
toilet atau jamban di sekolah diatur dalam Permendikbud Nomor 24 Tahun 2007
tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk SD/MI), SMP/MTS dan SMA/MA. Selain
rasio, dalam Permendikbud tersebut juga diatur bahwa luas minimum 1 unit jamban
adalah 2 meter persegi, dan tersedia air bersih di setiap unitnya. Sekolah di
Indonesia masih menghadapi masalah pada rendahnya akses pada air yang aman,
sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah. Berdasarkan data
fasilitas sanitasi sekolah melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Tahun 2014,
hanya 65% sekolah di Indonesia yang memiliki jamban terpisah antara siswa
laki-laki dan perempuan. Selain itu total fasilitas sanitasi di sekolah yang
ada hanya 22% dilaporkan berada dalam kondisi baik, atau hanya 1 dari 4 sekolah
yang memiliki sanitasi sekolah yang layak.
Sejumlah kendala yang dihadapi sehingga angka rasio sanitasi
terkait toilet di sekolah sangat tinggi. Diantaranya adalah kendala lahan
sehingga sarana toilet tidak bisa ditambah, sedangkan jumlah siswa memang
sangat tinggi, dan seperti itulah kendala di sekolah kami. Meskipun rasio
toilet di sekolah kami belum sesuai dengan jumlah siswa, setidaknya diawal tahun
2016 dan awal tahun 2017 dana bantuan sanitasi itupun menghampiri sekolah kami,
dengan bantuan tersebut kami bisa mempunyai 4 toilet perempuan dan 4 toilet
laki-laki. Toilet tersebut kami bangun dengan desain yang cukup menarik, klosetnya
terdiri dari kloset jongkok dan kloset duduk, lantai dan dindingnya memakai
keramik, tersedia air bersih, sirkulasi udara baik, pencahayaan baik, perlengkapan
kebersihannya tersedia, lengkap dengan tempat cuci tangan serta tempat wudhu. Tidak
lupa di dalam toilet kami berikan pengharum ruangan, sehigga kesan toilet bau
sudah tidak ada lagi, Di halaman toilet kami lengkapi dengan taman yang terdiri
dari kolam kecil dengan percikan air mancur dan beberapa tanaman, sehingga
menambah kesejukan dan terasa nyaman. Tidak hanya itu karena saat ini sedang
gencarnya digulirkan program literasi juga, maka bukan hal yang tidak mungkin
sekolah kami pun memberi nuansa literasi di lingkungan toilet sekolah. Pada
dinding toilet sekolah kami berikan memasang aneka macam poster edukasi,
seperti poster pengenalan huruf (abjad), poster perkalian, poster pembagian,
poster pegenalan bahasa inggris, dan lain-lain. Selain itu kami juga
menyediakan pojok baca di area toilet. Anak-anak atau warga sekolah yang lain bisa
membaca buku-buku bacaan yang sudah disediakan dengan leluasa membaca meskipun dihalaman
toilet sekalipun. Bahkan tidak hanya itu anak-anakpun bisa berdiskusi di area halaman
toilet, tanpa harus merasa risih dan tidak nyaman. Karena itulah kami merasa
bahwa toilet sekolah kami bersih dan kekinian.
Bantuan sanitasi sekolah tersebut
dikemudian hari dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan pengelolaan
serta pemeliharaannya menjadi tanggung jawab sekolah. Selain itu diharapkan
dapat mengugah dan mendorong perhatian yang sungguh-sungguh dari semua pihak
dan unsur terkait untuk meningkatkan kesadaran dan mempercepat perbaikan
sanitasi. Fasilitas sanitasi sekolah bahkan menjadi salah satu capaian dalam
indikator tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDG) yang ditetapkan
UNESCO. Karena itu, semua stake holder diperlukan untuk ikut mendorong
pemerintah Indonesia untuk bisa mencapai target kondisi sanitasi sekolah yang
ideal pada 2030 mendatang, sesuai target SDG. Diperlukan komitmen dalam pengelolaan
sanitasi sekolah, terutama dalam pemeliharaan dan mempertahankannya. Karena
meskipun sederhana, namun dampaknya sebenarnya sangatlah besar terhadap peserta
didik. Berhasilnya suatu program di sekolah tergantung kepada komitmen sekolah
masing masing dimana didalamnya ada tiga unsur yang menentukan, yaitu para guru
dan jajarannya, orang tua murid, dan anak sendiri sebagai pelaku untuk itu
ketiga stake holder ini sangat berperan untuk keberhasilan program PHBS (Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat) di sekolah.
Perilaku hidup bersih dan
sehat di sekolah sebagai upaya untuk memberdayakan siswa, guru, dan seluruh
warga sekolah serta masyarakat lingkungan sekolah agar tahu, mau dan mampu
mempratikkan perilaku hidup dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan
sekolah sehat. Perilaku hidup bersih dan sehat juga merupakan sekumpulan
perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan
sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara
mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan
aktif dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat. Sebelum
diterapkannya program perilaku hidup bersih dan sehat tersebut ada baiknya
dilakukan sosialisasi pada ketiga unsur stake holder tersebut dengan waktu yang
berbeda pada ketiga unsur tersebut karena sasarannya yang berbeda. Setelah
paham akan perlunya perilaku hidup bersih dan sehat terutama sanitasi sekolah
bagi kehidupan, maka akan dengan mudah program tersebut dapat dilaksanakan. Sanitasi
sekolah bermanfaat dalam meningkatkan kesehatan warga sekolah sehingga tidak
mudah sakit, meningkatkan semangat belajar, menurunkan angka absensi karena
sakit, dan menjadikan lingkungan sekolah yang nyaman dan sehat. Adanya kebijakan dan dukungan
dari pengambil keputusan seperti Bupati, Kepala Dinas pendidikan, Kepala Dinas
Kesehatan, DPRD, lintas sektor sangat penting untuk pembinaan perilaku hidup
bersih dan sehat di sekolah demi terwujudnya sekolah sehat.
Selasa, 08 Agustus 2017
Kampanye Imunisasi MR
Wow! Itu kata pertama yang
terlintas di benak saya. Betapa tidak beberapa hari ini di berbagai media, tempat,
kegiatan, dan di berbagai kesempatan baik yang disengaja maupun sambil
lalu sangat gencar dengan Kampanye Imunisasi Measles Rubella (MR) ini. Apalagi
penyelenggaraannya secara serentak di bulan Agustus ini di sekolah – sekolah
dengan rentang usia di bawah 15 tahun wajib melakukan imunisasi MR ini.
Reaksinya pun luar biasa beragam, dari yang sangat mendukung sampai dengan yang
menolak dengan berbagai alasan dan argumen.
Asingkah Imunisasi MR ini?,
tidak bagi pelaku di bidang kesehatan, tapi
ya bagi masyarakat awam. Hal yang mungkin bukan baru tetapi menjadi sangat luar
biasa euforianya karena situasi dan kondisi yang membuatnya seperti itu. Pertanyaan
apa itu imunisasi MR?, kenapa imunisasi ini wajib?, kenapa baru sekarang
dilaksanakannya? Apa yang terjadi bila tidak melakukannya? Atau siapa saja yang
harus melaksanakannya? Itu adalah beberapa pertanyaan umum dari banyaknya
deretan pertanyaan yang muncul ketika kampanye imunisasi MR ini digulirkan.
Beberapa yang terjun dalam kampanye inipun tak tanggung-tanggung, dari ahli
kesehatan, bidang pendidikan, bidang komersial sampai dengan tokoh masyarakat
semuanya ikut berpartisipasi.
Tahun 2017 adalah pelaksanaan
kampanye imunisasi MR pulau Jawa. Tahap pertama di bulan Agustus Sekolah
sebagai sasaran utama dari kampanye imunisasi MR ini adalah usia 9 bulan sampai
sampai dengan usia 15 tahun. Sedangkan
tahap kedua di bulan September di laksanakan di layanan kesehatan masyarakat,
seperti puskesmas atau posyandu. Sedangkan pelaksanaan di luar Pulau Jawa dijadualkan di tahun 2018.
Di sekolah kami, di SDN
Galihpawarti Baleendah Bandung, pelaksanaan kampanye imunisasi MR ini
dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus kemarin, penjelasannya tidak hanya
diberikan oleh petugas Puskesmas, kebetulan sekolah kami kedatangan Tim
Monitoring dari Provinsi dan perwakilan WHO dr.Fatimah R.,M.Sc., yang memantau
pelaksanaan Kampanye Imunisasi MR dari awal sampai akhir. Alhamdulillah
pelaksanaannya aman, lancar dan terkendali.
Adapun bagi siswa yang
kebetulan hari ini sakit, atau ijin tidak masuk sekolah bisa menyusul
melaksanakannya di bulan September di tempat layanan kesehatan, seperti
Posyandu atau Puskesmas.
Langganan:
Komentar (Atom)
