Kacapi Suling Ayun Ambing

Kamis, 03 Juli 2014

Abdi Urang Sunda

Pendidikan Berbasis Bahasa
dan Sastra Daerah (Sunda)
   https://www.youtube.com/watch?v=cwANqaxTT-s                                                                          
     A.   Pendahuluan
Pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat mewujudkan semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat. Salah satu cara dalam mengembangkan pembelajaran di sekolah adalah pendekatan lingkungan tempat tinggal, dan kebetulan lingkungan dimana saya tinggal adalah tanah Pasundan dengan karakteristik budaya, bahasa dan sastra sunda yang terkandung di dalamnya.
     
                                                  
1.      Mengapa Bahasa Sunda ?
Bahasa Sunda pada umumnya masih digunakan oleh sebagian besar masyarakat Jawa Barat untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai orang sunda sudah seharusnya berusaha untuk memelihara dan mengembangkan secara sungguh – sungguh. Hal ini dipandang penting karena bahasa Sunda merupakan bagian dari kebudayaan Sunda yang berfungsi sebagai alat atau wahana untuk mengembangkan kebudayaan Sunda.

2.  Bahasa Sunda Kondisi sekarang
Secara kondisional bahasa Sunda berkedudukan sebagai bahasa daerah atau dengan kata lain sebagai bahasa kedua setelah bahasa Indonesia yang berkedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Sunda merupakan bahasa ibu di sebagian besar masyarakat Jawa Barat. Karena itulah pembelajaran bahasa Sunda di kelas-kelas awal SD harus disesuaikan dengan prinsip pembelajaran bahasa kesatu sebagai kelanjutan dari hasil pembelajaran di lingkungan keluarga siswa. Sebagai alat komunikasi, bahasa Sunda digunakan untuk bertukar pikiran, perasaan, keinginan, baik secara lisan maupun tertulis menyertai berbagai segi kehidupan penuturnya. Dalam fungsinya bahasa Sunda juga telah banyak menghasilkan aneka ragam bentuk kreativitas dan beragam jenis karya sastra, oleh karena itu bahasa Sunda dapat dijadikan bahasa pengantar dalam pendidikan. Selain itu, pendidikan di Jawa Barat harus berdasarkan muatan lokal, termasuk bahasa daerah.
Kita boleh saja berfikir secara global, tetapi harus bertindak secara lokal. Artinya setiap orang perlu belajar apapun, bahkan mencari hikmah dari berbagai macam pengalaman bangsa lain di seluruh dunia, namun pengetahuan tentang pengalaman bangsa lain tersebut dijadikan sebagai pembelajaran dalam tindakan di lingkungan secara lokal.

B.   Dasar Pemikiran
Bahasa, sastra, dan aksara daerah telah dituangkan dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa barat No.5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan bahasa, sastra, dan aksara daerah. Kebijakan ini juga sejalan dengan UU No. 22 Th. 1999 tentang Pemerintahan Daerah, dan tentu saja dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang bersumber dari UUD 1945 yang menyangkut pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu sejalan pula dengan rekomendasi UNESCO tahun 1999 tentang Pemeliharaan bahasa-bahasa ibu.
Peraturan Pemerintah No.25 Th. 2000, pada bidang pendidikan dasar dan menengah dijelaskan bahwa kewenangan Provinsi lintas kabupaten/kota ialah penetapan kebijakan kurikulum muatan lokal, sedangkan kewenangan pemerintah kabupaten/kota ialah penerapan kurikulum muatan lokal.
Peraturan daerah Provinsi Jawa Barat No.5 Th. 2002 tentang pemeliharaan bahasa, sastra, dan aksara daerah, telah menjadikan bahasa daerah ditetapkan 2 jam pelajaran untuk mata pelajaran bahasa dan sastra sunda. Selain itu Keputusan Gubernur Jawa Barat No.243-5/Disdik/2006 tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda. Dengan demikian dengan dikembangkannya pendidikan berbasis bahasa dan sastra daerah di sekolah dasar, dalam hal ini bahasa sunda diharapkan dapat mewujudkan pendidikan yang Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Motekar.
§  Menciptakan suasana sekolah yang sehat (cageur) baik sehat phisik maupun mental.
§  Membentuk generasi penerus yang baik, beriman dan bertaqwa (bageur).
§  Menjauhkan siswa dari perilaku yang menyimpang dan tidak sesuai dengan etika dan norma agama (bener).
§  Meningkatkan prestasi siswa dan menghasilkan tamatan yang mampu bersaing (pinter).
§  Menghasilkan siswa yang kreatif, mampu mengembangkan dan memanfaatkan minat, bakat yang dimilikinya (motekar).


C.   Bahasa Sunda sebagai Bahasa Daerah.
Bahasa Sunda di Jawa Barat merupakan salah satu bahasa daerah, disamping bahasa Cirebon/Indramayu, dan Bahasa Melayu Jakarta. Hanya saja bahasa Melayu Jakarta sejauh ini belum dimasukan ke dalam pelajaran di Sekolah. Didaerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri yang dipelihara oleh rakyatnya dangan baik, bahasa-bahasa tersebut akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara karena bahasa-bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup.

1.      Fungsi Bahasa Sunda
Didalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa Sunda berfungsi sebagai :
§  Lambang kebanggaan daerah.
§  Lambang identitas daerah.
§  Alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat.

2.      Hubungan Bahasa Sunda dengan Bahasa Indonesia
Sedangkan hubungan bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia, antara lain :
§  Pendukung bahasa nasional.
§  Bahasa pengantar di sekolah-sekolah dasar di daerah tertentu pada tingkat permulaan untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain.
§  Pengembangan serta pendukung budaya nasional.

3.  Kedudukan Bahasa Sunda
            Setiap bahasa berkedudukan tinggi dalam peradaban dunia, selalu memiliki bahasa standar. Bahasa Sunda di Jawa Barat kebanyakan dipergunakan sebagai bahasa ibu, dalam artian bahasa pertama yang diperoleh anak dari ibunya atau keluarga melalui pembelajaran informal sejak anak itu mulai berbicara. Namun tidak semua keluarga menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu, terutama di kota-kota besar atau di lingkungan tertentu. Di keluarga tersebut ayah atau ibu tidak berbicara bahasa Sunda, tetapi bahasa lain, kebanyakan bahasa Indonesia, meskipun mereka tahu mereka tinggal di masyarakat yang menggunakan bahasa Sunda.
Keadaan seperti itu, bahasa Sunda yang diajarkan di Sekolah bukan menjadi bahasa pertama bagi anak yang bersangkutan, tetapi menjadi bahasa kedua. Keadaan seperti inilah yang harus menjadi ”catatan” bagi pendidik bahasa Sunda dan pihak lain yang peduli terhadap kelamgsungan hidup bahasa Sunda sebagai bahasa daerah di  kemudian hari. Disadari pula keberadaan bahasa Sunda saat ini tidak seperti bahasa Sunda jaman dulu, bahasa Sunda sekarang berada pada suasana multibahasa, paling tidak dwibahasa, yakni berdampingan dengan dengan bahasa Indonesia yang berkedudukan sebagai bahasa nasional. Karena bahasa Sunda berhadapan dengan bahasa Indonesia yang berkedudukan lebih tinggi sehingga mengakibatkan adanya persaingan bahasa, serta mau tidak mau bahasa yang berkedudukan lebih tinggi itu banyak mengalahkan bahasa Sunda. Suasana seperti inilah yang harus dicermati oleh pihak yang ingin melestarikan bahasa Sunda, termasuk para pendidik yang diberi tugas mengajar bahasa Sunda.
  
D.   Penerapan bahasa Sunda sebagai bahasa Daerah di sekolah.
Di beberapa sekolah dasar yang berada di kota, dimana keadaan muridnya heterogen sehubungan banyaknya pendatang dari luar daerah memerlukan perhatian khusus.

1.      Bahasa Sunda di Sekolah
Beberapa cara yang bisa dilakukan dalam penerapan bahasa Sunda sebagai bahasa Daerah di sekolah antara lain :
a.     Ada tenaga pengajarnya.
b.     Tersedia perangkat kurikulumnya.
c.      Memadai sarana pendukungnya.
d.     Mengenalkan bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda, terutama di kelas-kelas awal.
e.     Mengenalkan unsur-unsur bahasa Sunda dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
f.       Mengadakan korelasi positif antara pembelajaran bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia yang dapat dilakukan dengan cara berkoordinasi dipandu kepala sekolah atau pihak pengelola kurikulum.
g.     Menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar berdampingan dengan bahasa Indonesia.

Disadari mata pelajaran bahasa dan sastra Sunda sekarang ini amat jauh kurang dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Ini dapat dimengerti karena jumlah jam pelajaran bahasa Indonesia lebih banyak (6jam) dibandingkan dengan jam mata pelajaran bahasa daerah (2 jam), belum lagi ditambah ketentuan bahwa bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar di Sekolah. Belum lagi di media cetak dan elektronik pun hampir semua menggunakan bahasa Indonesia, maka keterampilan peserta didik berbahasa Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bahasa Sunda. Sebagai pendidik sudah seharusnya mencari pemecahan atas situasi tersebut, agar tidak selalu di kecam atau ”paneumbleuhan” rendahnya mutu pelajaran bahasa Sunda. Memberikan rangsangan kepada peserta didik untuk gemar dan banyak membaca tulisan berbahasa Sunda, merupakan salah satu cara dalam mengatasi situasi tersebut.
Menurut saya, rasanya tidak berlebihan bila dalam situasi berbahasa sekarang, saat bahasa Sunda berhadapan dengan bahasa Indonesia yang demikian dominan, sekolah mengambil langkah strategis dalam pembelajaran bahasa Sunda, dengan cara ”lebih mengutamakan” keterampilan membaca pada siswanya. Keterampilan lainnya, mendengarkan, berbicara, dan menulis diharapkan menyusul kemudian, dengan cara di pacu oleh pendidik atau terpacu sendiri pada diri siswa yang terpacu sendiri pada diri siswa saat berada di sekolah dan di luar sekolah.
Selain itu sikap dalam berbahasapun perlu di cermati, sikap berbahasa merupakan reaksi evaluatif atau perasaan yang ditunjukkan saat menggunakan bahasa tersebut. Sikap dalam berbahasa bisa ditunjukan dengan cara : (1) Kesetiaan dalam menggunakan bahasa daerah ( Sunda), (2) ada rasa bangga dalam menggunakan bahasa daerah (sunda)  tersebut sebagai lambang identitas dan ketunggalan, (3) kesadaran dalam mennggunakan bahasa daerah (sunda), yang mendorong masyarakat menggunakan bahasa dengan tertib dan sopan.
                               
2.      Bahasa Sunda dalam Pengembangan Pendidikan
Pengembangan pendidikan berbasis bahasa dan sastra Sunda adalah dari pemakaian bahasa dan sastra Sunda itu sendiri, dengan melakukan kegiatan :
1.  Pembinaan dan Pengembangan, mencakup :
-  inventarisasi, tersedianya tenaga pendidik yang cukup, cakap, dan terlatih dalam bidang penelitian bahasa dan sastra sunda.
-  Menyediakan buku – buku berbahasa daerah di perpustakan sekolah.
-  Memberikan reward, hadiah atau penghargaan terhadap praktisi pendidikan bahasa daerah.
2.  Peningkatan pembelajaran bahasa dan sastra Sunda, dalam hal ini pendidik harus benar – benar dapat memilih kompetensi apa saja yang harus dikuasai siswa dikaitkan dengan konsep bahasa dan sastra sunda secara proporsional, dalam artian disesuaikan dengan kondisi kebahasan dan kesastraan serta kebutuhan siswa saat ini. Oleh karena itu pendidikan hendaknya tidak mementingkan pelajaran bahasa dan sastra tempo dulu, seperti ngaran rupa-rupa kekembangan, sasatoan, babagian waktu, babagian jamparing jeung gondewa, dan seterusnya, karena bahan tersebut sudah tidak sesuai dengan keperluan kompetensi murid zaman sekarang.
     Pembelajaran bahasa Sunda haruslah menekankan fungsi sebagai alat komunikasi dan kemahiran berbahasa secara nyata, sedangkan sastra merupakan salah satu bentuk seni yang dapat diapresiasi, dihayati, dan dinikmati yang berbeda pada ranah afektif.
3.  Bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar
     Bahasa pengantar yang digunakan dalam pembelajaran ialah bahasa Sunda. Di sekolah-sekolah atau daerah yang kesulitan dengan pengantar bahasa Sunda, dapat digunakan bahasa Indonesia, baik sebagian atau sepenuhnya. Tetapi selalu disertai usaha secara berangsur-angsur bisa memahami petunjuk dalam bahasa Sunda.
4.  Sikap terhadap Pendidikan bahasa dan sastra Sunda
-  Bersahabat dengan bahasa dan sastra Sunda.
-  Peningkatan pendidikan budi pekerti melalui bercerita (ngadongeng) dalam kehidupan keseharian di rumah dari orang tua kepada anaknya.
-  Menghilangkan anggapan bahasa sunda itu susah.
-  Menanamkan kebanggaan menggunakan bahas Sunda.
-  Disesuaikan dengan kemajuan jaman baik di sekolah maupun di lingkungan rumah.
-  Dipergunakan dalam setiap kegiatan yang memungkinkan, untuk menggunakan bahasa Sunda.
-  Mensejajarkan kedudukan mata pelajaran bahasa daerah (sunda) dengan mata pelajaran lainnya.
-  Adanya perhatian khusus dari pemerintah setempat terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Sunda, termasuk memfasilitasi peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan bahasa dan sastra Sunda.

   

E.   Kesimpulan
Pengembangan pengajaran bahasa daerah bertujuan untuk meningkatkan mutu pengajaran bahasa daerah sedemikian rupa, sehingga penuturnya memiliki keterampilan berbahasa daerah (Sunda), pengetahuan yang baik tentang bahasa daerah (Sunda), dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra daerah (Sunda).

“IBDABINAFSIKA”
(“Mulailah dari dirimu sendiri, lalu keluargamu dan seterusnya”)
Disertai keteladanan dari Rasulullah

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar