Pendidikan
Berbasis Bahasa
dan
Sastra Daerah (Sunda)
A.
Pendahuluan
Pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan
perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat mewujudkan
semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat.
Salah satu cara dalam mengembangkan pembelajaran di sekolah adalah pendekatan
lingkungan tempat tinggal, dan kebetulan lingkungan dimana saya tinggal adalah
tanah Pasundan dengan karakteristik budaya, bahasa dan sastra sunda yang
terkandung di dalamnya.
1. Mengapa Bahasa Sunda ?
Bahasa Sunda pada umumnya masih digunakan oleh sebagian
besar masyarakat Jawa Barat untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai orang sunda sudah seharusnya berusaha untuk memelihara dan
mengembangkan secara sungguh – sungguh. Hal ini dipandang penting karena bahasa
Sunda merupakan bagian dari kebudayaan Sunda yang berfungsi sebagai alat atau
wahana untuk mengembangkan kebudayaan Sunda.
2. Bahasa Sunda Kondisi sekarang
Secara kondisional bahasa Sunda berkedudukan sebagai
bahasa daerah atau dengan kata lain sebagai bahasa kedua setelah bahasa
Indonesia yang berkedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Sunda merupakan
bahasa ibu di sebagian besar masyarakat Jawa Barat. Karena itulah pembelajaran
bahasa Sunda di kelas-kelas awal SD harus disesuaikan dengan prinsip
pembelajaran bahasa kesatu sebagai kelanjutan dari hasil pembelajaran di
lingkungan keluarga siswa. Sebagai alat komunikasi, bahasa Sunda digunakan
untuk bertukar pikiran, perasaan, keinginan, baik secara lisan maupun tertulis
menyertai berbagai segi kehidupan penuturnya. Dalam fungsinya bahasa Sunda juga
telah banyak menghasilkan aneka ragam bentuk kreativitas dan beragam jenis
karya sastra, oleh karena itu bahasa Sunda dapat dijadikan bahasa pengantar
dalam pendidikan. Selain itu, pendidikan di Jawa Barat harus berdasarkan muatan
lokal, termasuk bahasa daerah.
Kita boleh saja berfikir secara global, tetapi harus
bertindak secara lokal. Artinya setiap orang perlu belajar apapun, bahkan
mencari hikmah dari berbagai macam pengalaman bangsa lain di seluruh dunia,
namun pengetahuan tentang pengalaman bangsa lain tersebut dijadikan sebagai
pembelajaran dalam tindakan di lingkungan secara lokal.
B.
Dasar Pemikiran
Bahasa, sastra, dan aksara daerah telah dituangkan dalam
Peraturan Daerah Provinsi Jawa barat No.5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan
bahasa, sastra, dan aksara daerah. Kebijakan ini juga sejalan dengan UU No. 22
Th. 1999 tentang Pemerintahan Daerah, dan tentu saja dalam UU No.20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional yang bersumber dari UUD 1945 yang menyangkut
pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu sejalan pula dengan rekomendasi UNESCO tahun
1999 tentang Pemeliharaan bahasa-bahasa ibu.
Peraturan Pemerintah No.25 Th. 2000, pada bidang
pendidikan dasar dan menengah dijelaskan bahwa kewenangan Provinsi lintas
kabupaten/kota ialah penetapan kebijakan kurikulum muatan lokal, sedangkan
kewenangan pemerintah kabupaten/kota ialah penerapan kurikulum muatan lokal.
Peraturan daerah Provinsi Jawa Barat No.5 Th. 2002
tentang pemeliharaan bahasa, sastra, dan aksara daerah, telah menjadikan bahasa
daerah ditetapkan 2 jam pelajaran untuk mata pelajaran bahasa dan sastra sunda.
Selain itu Keputusan Gubernur Jawa Barat No.243-5/Disdik/2006 tentang Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Sunda. Dengan demikian
dengan dikembangkannya pendidikan berbasis bahasa dan sastra daerah di sekolah
dasar, dalam hal ini bahasa sunda diharapkan dapat mewujudkan pendidikan yang Cageur,
Bageur, Bener, Pinter, dan Motekar.
§ Menciptakan
suasana sekolah yang sehat (cageur) baik sehat phisik maupun mental.
§ Membentuk
generasi penerus yang baik, beriman dan bertaqwa (bageur).
§ Menjauhkan
siswa dari perilaku yang menyimpang dan tidak sesuai dengan etika dan norma
agama (bener).
§ Meningkatkan
prestasi siswa dan menghasilkan tamatan yang mampu bersaing (pinter).
§ Menghasilkan
siswa yang kreatif, mampu mengembangkan dan memanfaatkan minat, bakat yang
dimilikinya (motekar).
C.
Bahasa Sunda sebagai Bahasa Daerah.
Bahasa Sunda di Jawa Barat merupakan salah satu bahasa daerah,
disamping bahasa Cirebon/Indramayu, dan Bahasa Melayu Jakarta. Hanya saja
bahasa Melayu Jakarta sejauh ini belum dimasukan ke dalam pelajaran di Sekolah.
Didaerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri yang dipelihara oleh rakyatnya
dangan baik, bahasa-bahasa tersebut akan dihormati dan dipelihara juga oleh
negara karena bahasa-bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia yang
hidup.
1. Fungsi Bahasa Sunda
Didalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa Sunda
berfungsi sebagai :
§ Lambang
kebanggaan daerah.
§ Lambang
identitas daerah.
§ Alat
perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat.
2. Hubungan Bahasa Sunda dengan Bahasa Indonesia
Sedangkan hubungan bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia,
antara lain :
§ Pendukung
bahasa nasional.
§ Bahasa
pengantar di sekolah-sekolah dasar di daerah tertentu pada tingkat permulaan
untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain.
§ Pengembangan
serta pendukung budaya nasional.
3. Kedudukan Bahasa Sunda
Setiap bahasa
berkedudukan tinggi dalam peradaban dunia, selalu memiliki bahasa standar. Bahasa
Sunda di Jawa Barat kebanyakan dipergunakan sebagai bahasa ibu, dalam artian
bahasa pertama yang diperoleh anak dari ibunya atau keluarga melalui
pembelajaran informal sejak anak itu mulai berbicara. Namun tidak semua
keluarga menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu, terutama di kota-kota
besar atau di lingkungan tertentu. Di keluarga tersebut ayah atau ibu tidak
berbicara bahasa Sunda, tetapi bahasa lain, kebanyakan bahasa Indonesia,
meskipun mereka tahu mereka tinggal di masyarakat yang menggunakan bahasa
Sunda.
Keadaan seperti itu, bahasa Sunda yang diajarkan di
Sekolah bukan menjadi bahasa pertama bagi anak yang bersangkutan, tetapi
menjadi bahasa kedua. Keadaan seperti inilah yang harus menjadi ”catatan” bagi
pendidik bahasa Sunda dan pihak lain yang peduli terhadap kelamgsungan hidup
bahasa Sunda sebagai bahasa daerah di
kemudian hari. Disadari pula keberadaan bahasa Sunda saat ini tidak
seperti bahasa Sunda jaman dulu, bahasa Sunda sekarang berada pada suasana
multibahasa, paling tidak dwibahasa, yakni berdampingan dengan dengan bahasa
Indonesia yang berkedudukan sebagai bahasa nasional. Karena bahasa Sunda
berhadapan dengan bahasa Indonesia yang berkedudukan lebih tinggi sehingga
mengakibatkan adanya persaingan bahasa, serta mau tidak mau bahasa yang
berkedudukan lebih tinggi itu banyak mengalahkan bahasa Sunda. Suasana seperti
inilah yang harus dicermati oleh pihak yang ingin melestarikan bahasa Sunda, termasuk
para pendidik yang diberi tugas mengajar bahasa Sunda.
D.
Penerapan bahasa Sunda sebagai bahasa Daerah di sekolah.
Di beberapa sekolah dasar yang berada di kota, dimana
keadaan muridnya heterogen sehubungan banyaknya pendatang dari luar daerah
memerlukan perhatian khusus.
1. Bahasa Sunda di Sekolah
Beberapa cara yang bisa dilakukan dalam penerapan bahasa
Sunda sebagai bahasa Daerah di sekolah antara lain :
a.
Ada tenaga pengajarnya.
b.
Tersedia perangkat kurikulumnya.
c.
Memadai sarana pendukungnya.
d.
Mengenalkan bahasa Indonesia dengan bahasa Sunda,
terutama di kelas-kelas awal.
e.
Mengenalkan unsur-unsur bahasa Sunda dalam pembelajaran
bahasa Indonesia.
f.
Mengadakan korelasi positif antara pembelajaran bahasa
Sunda dengan bahasa Indonesia yang dapat dilakukan dengan cara berkoordinasi
dipandu kepala sekolah atau pihak pengelola kurikulum.
g.
Menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar
berdampingan dengan bahasa Indonesia.
Disadari mata pelajaran bahasa dan sastra Sunda sekarang
ini amat jauh kurang dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Ini dapat dimengerti
karena jumlah jam pelajaran bahasa Indonesia lebih banyak (6jam) dibandingkan
dengan jam mata pelajaran bahasa daerah (2 jam), belum lagi ditambah ketentuan
bahwa bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar di Sekolah. Belum lagi di media
cetak dan elektronik pun hampir semua menggunakan bahasa Indonesia, maka
keterampilan peserta didik berbahasa Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan bahasa Sunda. Sebagai pendidik sudah seharusnya mencari pemecahan atas
situasi tersebut, agar tidak selalu di kecam atau ”paneumbleuhan” rendahnya
mutu pelajaran bahasa Sunda. Memberikan rangsangan kepada peserta didik untuk
gemar dan banyak membaca tulisan berbahasa Sunda, merupakan salah satu cara
dalam mengatasi situasi tersebut.
Menurut saya, rasanya tidak berlebihan
bila dalam situasi berbahasa sekarang, saat bahasa Sunda berhadapan dengan
bahasa Indonesia yang demikian dominan, sekolah mengambil langkah strategis
dalam pembelajaran bahasa Sunda, dengan cara ”lebih mengutamakan” keterampilan
membaca pada siswanya. Keterampilan lainnya, mendengarkan, berbicara, dan
menulis diharapkan menyusul kemudian, dengan cara di pacu oleh pendidik atau
terpacu sendiri pada diri siswa yang terpacu sendiri pada diri siswa saat
berada di sekolah dan di luar sekolah.
Selain itu sikap dalam berbahasapun perlu di cermati,
sikap berbahasa merupakan reaksi evaluatif atau perasaan yang ditunjukkan saat
menggunakan bahasa tersebut. Sikap dalam berbahasa bisa ditunjukan dengan cara
: (1) Kesetiaan dalam menggunakan bahasa daerah ( Sunda), (2) ada rasa bangga
dalam menggunakan bahasa daerah (sunda)
tersebut sebagai lambang identitas dan ketunggalan, (3) kesadaran dalam
mennggunakan bahasa daerah (sunda), yang mendorong masyarakat menggunakan
bahasa dengan tertib dan sopan.
2. Bahasa Sunda dalam Pengembangan Pendidikan
Pengembangan pendidikan berbasis bahasa dan sastra Sunda
adalah dari pemakaian bahasa dan sastra Sunda itu sendiri, dengan melakukan
kegiatan :
1.
Pembinaan dan Pengembangan, mencakup :
- inventarisasi,
tersedianya tenaga pendidik yang cukup, cakap, dan terlatih dalam bidang
penelitian bahasa dan sastra sunda.
- Menyediakan
buku – buku berbahasa daerah di perpustakan sekolah.
- Memberikan
reward, hadiah atau penghargaan terhadap praktisi pendidikan bahasa daerah.
2.
Peningkatan pembelajaran bahasa dan sastra Sunda, dalam
hal ini pendidik harus benar – benar dapat memilih kompetensi apa saja yang
harus dikuasai siswa dikaitkan dengan konsep bahasa dan sastra sunda secara
proporsional, dalam artian disesuaikan dengan kondisi kebahasan dan kesastraan
serta kebutuhan siswa saat ini. Oleh karena itu pendidikan hendaknya tidak
mementingkan pelajaran bahasa dan sastra tempo dulu, seperti ngaran rupa-rupa
kekembangan, sasatoan, babagian waktu, babagian jamparing jeung gondewa, dan
seterusnya, karena bahan tersebut sudah tidak sesuai dengan keperluan
kompetensi murid zaman sekarang.
Pembelajaran
bahasa Sunda haruslah menekankan fungsi sebagai alat komunikasi dan kemahiran
berbahasa secara nyata, sedangkan sastra merupakan salah satu bentuk seni yang
dapat diapresiasi, dihayati, dan dinikmati yang berbeda pada ranah afektif.
3.
Bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar
Bahasa
pengantar yang digunakan dalam pembelajaran ialah bahasa Sunda. Di
sekolah-sekolah atau daerah yang kesulitan dengan pengantar bahasa Sunda, dapat
digunakan bahasa Indonesia, baik sebagian atau sepenuhnya. Tetapi selalu
disertai usaha secara berangsur-angsur bisa memahami petunjuk dalam bahasa
Sunda.
4.
Sikap terhadap Pendidikan bahasa dan sastra Sunda
- Bersahabat
dengan bahasa dan sastra Sunda.
- Peningkatan
pendidikan budi pekerti melalui bercerita (ngadongeng) dalam kehidupan
keseharian di rumah dari orang tua kepada anaknya.
- Menghilangkan
anggapan bahasa sunda itu susah.
- Menanamkan
kebanggaan menggunakan bahas Sunda.
- Disesuaikan
dengan kemajuan jaman baik di sekolah maupun di lingkungan rumah.
- Dipergunakan
dalam setiap kegiatan yang memungkinkan, untuk menggunakan bahasa Sunda.
- Mensejajarkan
kedudukan mata pelajaran bahasa daerah (sunda) dengan mata pelajaran lainnya.
- Adanya
perhatian khusus dari pemerintah setempat terhadap pembelajaran bahasa dan
sastra Sunda, termasuk memfasilitasi peningkatan dan pengembangan mutu
pendidikan bahasa dan sastra Sunda.
E.
Kesimpulan
Pengembangan pengajaran bahasa daerah bertujuan untuk meningkatkan mutu
pengajaran bahasa daerah sedemikian rupa, sehingga penuturnya memiliki
keterampilan berbahasa daerah (Sunda), pengetahuan yang baik tentang bahasa
daerah (Sunda), dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra daerah (Sunda).
“IBDABINAFSIKA”
(“Mulailah dari
dirimu sendiri, lalu keluargamu dan seterusnya”)
Disertai keteladanan dari
Rasulullah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar